Catatan malam
Teringat seketika dibenakku seorang anak manusia yang di tinggal mati oleh kedue orang tuannya, belio memiliki beberapa saudra yang masih bersekolah. Setiap hari ia selalu banting tulang untuk membiayai adik-adiknya yang masih menempuh jalur pendidikan. Berangakat pagi pulang, dan selalu begitu, awalnya sih selalu bisa dijadikan pondasi buat adik-adiknya, bahakam menjadikan motivasi tersendiri.
Tapi, hari demi hari dan waktupun berubah deratis atau orang mengatakan berputar 180© mengalihkan semuanya, yang awalnya menjadi penompang ekonomi keluarga berbalik arah entah kemana, yang awalnya bisnis lancar berubah deratis. Harta warisan dari orang tuanya yang telah meninggal habis terjual, Bayangkan jika pemuda yang berumur 27 tahun harus membiayai beberapa adiknya yang masih menempuh kuliyah disalah satu univertitas, dengan kondisi yang bisa pademi covid-19, semua ekonomi melemah.
Mungkin pembaca ah itu udah biasa dalam dunia bisnis, tapi bagi saya ini luar biasa, saya sebagai penulis tidak bisa membayang harus bagaimana mencari rupiah untuk adik-adiknya yang menempuh jenjang kuliyah tersebut,karna kuliyah bukan dengan biaya murah. Belum lagi membayar SPP semesternya, kiriman jajan bulanan, dan bahkan uang untuk membayar kost-kostan.
Saya gak habis pikir, bagaimana bisa membatunya? Dalam fikiranku selalu terniang saat ada orang bertanya kepada ku dimana dia sekarang? Kan dia masih sepupu kamu? Dalam hati saya ingin menangis, Ya Allah mengapa engkau beri cobaan kepada dia yang telah ditinggal ayah dan ibunya?😢😢
Apa salah dia Ya Allah?
Keluarga besarnya, seperti pakde,pakle, bulek tidak bisa berbuat banyak, karna memang ekonominya sedang dan cukup untuk membiayai anak-anaknya yang sedang kuliyah. Bahkan warisan dia yang di kasih darinorang tua sudah habis terjual untuk membiaya adik-adiknya. Sayangnya saya hanya sebagai petani kebun karet bukan kolongmerat yang melimpah harta, pendapatanpun dalam 1minggu hanya mendapat pengahsilan 100-150ribu, itu pun gak cukup untuk membantu adik keponakan saya. Apalagi ditambah saat ini ditengah wabah pandemi covid-19 ini saya ikut berpikir, bagaimana keadaan dia dan adik-adiknya di tanah prantoan sana. Ntah makan dimana? Sama apa dan diusir dari kost apa gak "karna blm bayar kost"?😢😢😢
Andaikan saya diciptan Tuhan menjadi anak sultan, maka tak akan kubiarkan seoramg anak yatim menangis ditengah orang pada makan yang enak-enak, sedangkan dia masih bingung mau makan apa??????? Ya Allah harus bagaimana hambamu ini membantunya??? Ditengah wabah pandemi civid-19 ini.
Saya selalu berdo'a untuk keponkan saya, semoga ada orang yang peduli terhadap apa yang dijalaninya, dan semoga selalu sehat meskipun tak tau esok hari sahur pake apa!!!
Penulis
NM

Komentar
Posting Komentar